Tuesday, 16 November 2010

Haji dan Demokrasi

Berbicara tentang ibadah Haji banyak mengandung pelajaran yang sangat berguna. Dalam Bahasa Arab, Haji (Hajj) berarti membuat keputusan untuk mengunjungi tempat suci. Karena orang banyak dari segala penjuru dunia membuat keputusan untuk mengunjungi Ka'bah maka pekerjaan dinamakan haji.



Sebagaimana Allah SWT memfardlukan Sholat agar manusia selalu menghubungi / mendekatkan diri kepada Allah dan mengaku kehambaan serta mengharapkan rahmat dan Maghfiroh-Nya. Allah memfardlukan Zakat untuk mensucikan harta dan memberi bantuan kepada orang - orang fakir. Sebagaimana Allah memfardlukan Shalat berjama'ah supaya manusia dapat saling mengenal, Allah memfardlukan Haji supaya terjalin hubungan antara seluruh Umat Muslim didunia tanpa ada perbedaan apapun diantaranya.




Tepat pada tanggal 9 Dzulhijah mereka berwuquf di Arafah, suatu padang pasir yang luas, panas, tandus dan gersang. Semua sama - sama berpakaian kain ihram dua helai semua sama - sama duduk bersimpuh dan bersujud dihadapan Allah Rabbul'Alamin memohon ampunan dan Maghfirah.




Mengunjungi Baitullah yang terletak di Mekah untuk menunaikan Ibadah Haji, suatu yang fardlu sebagaimana Shalat dan Zakat. Firnan Allah dalam QS : Ali Imran.3 : 97 yang artinya " mengerjakan haji adalah kewajiban menusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa yang mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta. "




Didalam sejarah Haji tidak terlepas dari riwayat Nabi Ibrahim AS yang lahir di Irak + 4000 tahun yang lalu dimana kondisi pada saat itu seluruh umat manusia sudah melupakan Tuhan. Menurut Abul Ala Maududi (1975) tak satupun diatas dunia ini yang tahu siapa Tuhannya yang sebenarnya. Tak seorang pun yang menundukkan kepala dengan patuh secara eksklusif menghambakan kepada-Nya. Padahal pada saat itu bangsa ditengah kawasan dimana Nabi Ibrahim dilahirkan adalah bangsa yang maju didunia, tetapi juga paling besar Takhayul dan kesesatannya.




Nabi Ibrahim AS bukanlah manusia kebanyakan, ia memiliki kepribadian yang berbeda dari orang banyak. Segala macam cobaan datang menerpanya dan Nabiyullah Ibrahim selalu dapat mengatasinya dengan pertolongan Allah SWT.



TAQWA



Dalam Ibadah Haji ada sesuatu yang dapat dijadikan contoh tauladan bagi kita umat manusia atas diri Nabi Ibrahim serta putranya Ismail yang pada intinya adalah sikap ketaatan dan kepatuhan (taqwa) kepada Allah SWT dan rasa kasih sayang, kearipan serta sikap Demokratis yang tidak memaksakan kehendaknya kepada orang lain.




Sikap Nabi Ibrahim dan Ismail As iitu dapat kita lihat dalam QS ; Ash Shaffaat (100-102) yang artinya : "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang - orang yang Shaleh. Maka kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan seorang anak yang penyabar, (yaitu Ismail). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersama - sama, lalu Ibrahim berkata aku menyembelihmu, maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu?". Ismail menjawab : "Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapat aku termasuk orang- orang yang sabar ".




Dari ayat tersebut ada sesuatu pelajaran yang dapat dijadikan pedoman dalam hidup ini, yaitu :



Pertama : Kepatuhan Nabi Ibrahim AS dalam melaksanakan perintah Allah SWT. Hal ini tercermin pada sikap kesungguhan dan keikhlasannya untuk melaksanakan Perintah Allah SWT yang disampaikan melalui mimpinya. Padahal Perintah itu, menurut ukuran manusia biasa sangat berat untuk dilaksanakan, yaitu keharusan Nabi Ibrahim yang menyembelih puteranya Ismail yang amat disayanginya sebagai kurban.Kedua : Sikap Ibrahim yang tidak memaksakan kehendaknya. Hal itu tercermin pada pemerintahan Ibrahim terhadap anaknya untuk memberikan pendapat dalam menganggapi mimpinya Ketiga : Kerelaan Ismail untuk mengorbankan dirinya demi mengunjungi tinggi perintah Allah dan ketaatannya kepada-Nya.




Dikisahkan, tatkala Ismail akan disembelih ia mengajukan tiga permohonan kepada ayahnya, yaitu :Pertama ; agar pisau yang dipergunakan untuk menyembelihnya itu diasah tajam untuk meringankan derita sakit pada saat disembelih Kedua; agar mukanya ditutup dengan kain tatkala akan disembelih, supaya ayahnya tidak ragu dan bimbang tatkala menyembelihnya, dan Ketiga; agar baju yang dipakainya tatkala disembelih, yang sudah barang tentu berlumuran darah, diserahkan kepada Ibu yang dicintainya sebagai kenang-kenangan atas kerelaan hati dan ketabahan puteranya menghadapi maut dalam menjalankan perintah Allah.




Dalam suasana yang amat mengharukan itu, keduanya saling berpandangan, pandangan yang sukar dilukiskan dalam rangkaian kata - kata. Satu persatu tetesan air mata Ibrahim dan Ismail mulai berjatuhan, Nabi Ibrahim mencium kening anaknya sebagai tanda perpisahan. Kemudian anaknya yang dicintainya itu dibaringkannya dan pisau yang tajam mulai diletakan di atas leher Ismail.




Saat detik yang mengharukan itu, Al¬lah memperlihatkan kearifan dan kasih sayang-Nya kepada Ibrahim dan puteranya. Dihadapan Ibrahim secara tiba - tiba muncullah Malaikat Jibril dengan membawa seekor kambing Kibasy yang gemuk dan bagus. Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih kambing itu sebagai pengganti anaknya. Dengan demikan, Ismail terlepas dari renggutan maut. Atas kejadian itu, kembali Ibrahim dan Ismail berpandangan, sama - sama heran, mereka berpelukan dengan penuh perasaan kegembiraan.




Semangat berkorban yang dicontohnya oleh Ibrahim AS dan puteranya merupakan tauladan bagi semua. Jika Nabi Ibrahim rela mengorbankan sesuatuyang paling berhargabagi hidupnya demi terlaksananya perintah Allah. Seyogyanya kita dapat dan berani berkurban apa saja, baik fikiran, perasaan, tenaga ataupun harta benda bahkan jiwa raga sekalipun demi tegaknya perintah Al¬lah Rabbul Alamin.




TAQARRUB



Arti kurban secara harfiah ialah Taqarrub Ilallah yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT, Kurban akan mencapai makna yang hakiki, manakala disadari oleh motivasi untuk mendekatkan diri kepada Allah, dilandasi niat ikhlas karena Allah untuk mencapai keridhoan-Nya. Kurban yang demikian itulah yang dikehendaki oleh Allah SWT.




Seperti dalam Firmannya dalam QS : Al Hajj: 37 : yang artinya: "Daging - daging dan darahnya itu sekali - kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya "




Menyembelih hewan qurban, mengalir darah dari tubuhnya merupakan simbolik agar manusia mensucikan dirinya dan sifat - sifat hewan yang menyelip di balik jasadnya. Sifat - sifat tamak, serakah, iri hati, dengki, hasad, egois adalah sifat - sifat hewani yang menodai citra kemuliaan sebagai Khalifah Allah dimuka bumi. Sifat - sifat yang demikian itu bukan hanya merugikan diri sendiri tetapi juga akan merusak tata kehidupan masyarakat.




Menyembelih hewan qurban pada hari Idul Adha mengandung makna Pertama : meneladani Nabi Ibrahim AS Kedua : Mengenang nikmat Allah yang dilimpahkan kepada Ismail AS. Sikap dan kepribadian Nabi Ibrahim dan Ismail AS menjadi teladan bagi kita semua untuk selalu taat dan patuh (taqwa) kepada Al¬lah SWT memiliki kearipan, kasih sayang terhadap sesama, serta sifat tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Semoga ini menjadi cermin bagi kita semua. 

Marilah kita berqurban dalam apa jua bentuk bagi membentuk sifat yang mulia.


No comments: