Thursday, 24 May 2012

Tsunami Kasih

bersama yang tersayan
Aku suka bila aku disayangi. Lebih-lebih lagi aku suka bila orang menyintai aku. Cinta dan sayang memang sukar untuk dipisahkan. Aku menyayangi anak-anakku, menyintai mereka dengan sepenuh jiwaku. Sama seperti aku menyintai ayah mereka dengan tulus ikhlas dengan apa yang ada padanya. Takkan ada yang bisa menghapus sayang dan cintaku pada mereka semua kecuali dariNYA. Dan bila aku tidak memiliki kasih sayang dan cinta itu untuk ayah mereka sebagai seorang suami, aku percaya, semua berpunca dariNYA. Pasti ada sebab, kenapa dan mengapa hatiku berubah. Perubahan itu tidak akan terjadi tanpa alasan apa pun. Namun ikatan yang ada diantara kami (memiliki anak dari buah cinta kami) tentunya tidak dapat memisahkan kami begitu mudah. Biarlah apa kata orang diluar sana...bagaimana hubungan yang tidak lagi harmoni bisa terjalin dan berjalan seperti pasangan normal yang berkhawin. Semuanya demi anak-anak (alasan kami). Tetapi bagiku, bukan cuma kerana anak. Ada yang lebih dari itu. Aku adalah seorang pencinta sangat setia pada pasangan sebenarnya. Jika mereka tahu, aku adalah seorang yang sangat menghargai mereka yang menyayangiku, menyintaiku meski pun mereka melihat aku dari sudut yang negetive. Bila aku menyintai seseorang, aku akan menjaga dengan baik hubungan tersebut sehinggalah HATIKU TERLUKA. Aku bisa memaafkan sesiapa pun dalam hidupku termasuk suamiku, namun aku tidak akan pernah melupakan apa yang pernah mereka lakukan padaku. SENTIASA HANGAT DALAM INGATAN...sehangat ketika aku dalam pelukan mereka. Membara dan membakar jiwaku. Kehangatan itulah yang akan membuatkan aku sedikit demi sedikit berpaling dari mereka, meski pun aku menyayangi dan menyintai mereka. Aku harus pergi dari hidup mereka bila aku melihat perhubungan itu tidak menjanjikan aku kebahagian. Bagiku kebahagian itu penting dalam perhubungan. Untuk apa aku bertahan dalam perhubungan yang aku tidak melihat jalan penghujungnya? Untuk apa aku pertahankan perhubungan jika aku perlu mengalirkan airmata? Untuk apa aku bertahan dalam perhubungan jika aku harus menjadi seorang pengemis? Bukankah aku juga punya harga diri

insan tersayang

Aku sedar, bukan mudah untuk mencari kebahagian dalam kehidupan. Lebih-lebih lagi orang seperti aku. Sosial dan agak nakal. Ramai yang tidak dapat menerima sikap dan tingkah lakuku seadanya. Namun aku tidak dapat mengubah diriku untuk menjadi insan yang mereka kehendaki.. aku ingin mereka menerima aku seadanya. Menerima semua kekurangan yang aku ada dan dalam masa yang sama menerima kelebihan yang aku ada. Bukan menerima kelebihan yang aku ada tetapi tidak dapat menerima kekurangan yang aku ada. Namun sehingga hari ini aku belum lagi mendapat apa yang aku inginkan. Jauh sekali dari mereka yang merasa menyayangi aku. Persoalannya sekarang, perlukah aku pertahankan perhubungan yang tidak dapat menerima aku seadanya. Mengonggkong kebebasan yang aku ada? melanggar hak-hak peribadi yang aku ada? Apa lagi jika perhubungan itu amat menggaggu emosiku dan menjatuhkan harga dan imej diriku. Kesendirian dan kesepian itu amat mencengkam jiwa, aku tidak menyukai kesepian, tetapi jika kesepian itu menjadi terapi ketenangan diriku, rasanya aku lebih baik menjadi seorang yang sepi daripada aku dimiliki dengan jiwa yang memberontak. Aku harus meneruskan perjalananku tanpa menoleh kebelakang, aku harus meninggalkan semua yang merasa menyayangiku tapi tidak pernah menghormati dan menghargai apa yang aku berikan pada mereka. Selamat tinggal jika itulah ucapan yang paling tepat buat mereka. Biarlah ada hati yang terluka. BUKANKAH AKU SUKA MEMPERMAINKAN HATI DAN PERASAAN MEREKA.? itu tanggapan yang diberikan padaku. itu lebel yang aku ada dimata mereka. Huuuuhhhh!!!...hati dan perasaan siapa yang aku permainkan? bukan hati dan perasaanku yang dipermainkan selama ini? hati dan perasaanku yang diinjak-injak tanpa kasihan?....Biarlah apa tanggapan mereka. Rasanya aku tidak pernah menyusahkan mana-mana lelaki dalam dunia ini. Kalau lelaki yang menyusahkan aku ADALAH...perggggghhhh...

No comments: