Tuesday, 10 July 2012

Aku dan Dia

Bagaikan bom atom berita itu aku terima. antara suka dan duka. Seharusnya aku suka kerana selama ini aku memang menginginkan semua itu terjadi. Bahkan aku pernah berdoa pada Ilahi agar aku bisa pergi jauh dari sisinya. Namun bila semua itu bakal menjadi kenyataan, aku seakan bingung dan sedih dengan semua itu. Kenapa? apakah aku masih menyintainya? Bukankah selama ini aku sangat benci padanya...tidak ingin bertemu dengannya...ada apa sebenarnya dihatiku...kenapa punya rasa yang amat berbeza dengan semua itu. Aku bahkan sukar menerima semua itu...dan tidak lengkap satu kesedihan tanpa air mata. Menangis..hinanya diriku jika dia mengetahui aku menangis kerananya...

Aku bersamanya lebih tiga puluh tahun. suka dan duka bersamanya. Seawal usia belasan tahun aku bersamanya. kehidupanku bersamanya lebih banyak berbanding kehidupanku dengan ibubapaku. Dia menjagaku sekian lama...menyakitiku sekian lama. ...memberikan aku sejuta rasa bila bersamanya...menangis sekian lama...bahkan tertawa bersamanya sekian lama. Semua nilai-nilai kehidupan dia berikan padaku, kehidupan yang indah, sekaligus kehidupan yang amat pahit bagi seorang wanita dan isteri. Aku cukup mengenali dirinya, kebaikan-kebaikannya, kelemahan dirinya, kekuatan dirinya bahkan keburukan dirinya. Aku cukup sayang padanya, bahkan tidak keterlaluan aku nyatakan bahawa aku pernah berdoa padaNYA agar aku dan dia tidak dipisahkan, tetapi kudrat Ilahi tidak siapa dapat mengubahnya, termasuk aku...sebab itu aku pernah berpisah beberapa kali dengannya dan lafaz cerai pernah aku terima darinya. Tetapi kekuatan kasih sayang yang kami ada menyebabkan kami tidak berpisah seperti itu sahaja. Kami masih bersama seperti biasa (bagaikan suami isteri) sedangkan kami tidak punya ikatan hubungan. Dalam situasi sedemikian kami rujuk kembali, tetapi berpisah semula bila dia kembali bersikap seperti sediakala. Dia tidak bisa berubah...namun aku sentiasa  memaafkan dirinya...menerima dia seadanya dengan apa yang dia ada, kerana aku cukup menyayangi dirinya meski pun aku tidak punya rasa cinta yang kukuh buatnya. Semua kehidupan remajaku aku habiskan bersamanya tanpa kesal...bahkan, aku  bangga menghabiskan usia mudaku bersamanya, menjadi ibu kepada anak-anaknya. Melalui semua lorong-lorong kehidupan bersamanya dan menikmati citarasa kehidupan yang cukup indah dan melelahkan, terkadang menyakitkan dan membosankan...

Menjalani kehidupan bersamanya amat simple dan indah...aku tidak perlu menyusahkan diri untuk melayannya sebagaimana lelaki lain mendapat layanan dari isteri mereka..aku tidak perlu bersusah payah untuk merawat anak-anaknya bahkan aku tidak perlu bersusah payah menjadi koki didapur sepanjang bersamanya..semuanya dia yang lakukan dengan cukup baik, bahkan lebih baik dari aku lakukan. Aku cukup beruntung...amat beruntung sekali...tetapi dibalik keuntungan itu aku terpaksa membayar dengan airmata dan maruah, harga diri. Aku tidak ingin mengungkapkan disini apa yang erti semua itu..biar aku sendiri yang merasakan apa kenangan yang cukup bernilai antara aku dan dia...

No comments: