Friday, 5 April 2013

MENYESAPI PERJALANAN DARI TITIK NOL


Inline image 1


Resensi Buku Koran Tempo

MENYESAPI PERJALANAN DARI TITIK NOL

Judul: Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan
Penulis: Agustinus Wibowo
Penerbit: Kompas Gramedia
Cetak pertama: 2013
Tebal: xii + 556 halaman
BUKU---KORAN TEMPO--- MINGGU 24 MARET 2013

Buku ini mencoba mengungkapkan makna sebuah perjalanan yang sesungguhnya. Perjalanan bukanlah tentang memuas¬kan ego, melainkan tentang melihat ke dalam diri.

Perjalanan bukanlah menyusuri sebanyak mungkin obyek wisata ternama, menjejali ransel dengan segepok cendera mata khas daerah setempat, ataupun berbangga menahbiskan diri sebagai petualang yang paling irit sedunia. Bagi Agustinus Wibowo, perjalanan adalah belajar menatap cermin. Perjalanan adalah refleksi yang mengendurkan ke-aku-an menjadi "mereka".

Dalam buku Titik Nol, Makna Sebuah Perjalanan, jangan bayangkan kita disuguhi wisata "cantik" yang mulus dan penuh hura-hura. Agustinus, seperti dalam dua bukunya sebelum ini— Selimut Debu dan Garis Batas— kembali mengajak kita berziarah ke pelosok yang penuh bahaya, kegetiran, dan tanda tanya.

Adalah Beijing yang dipilih Agustinus sebagai titik awal pengembaraannya. Dari situ, lelaki asal Lumajang, Jawa Timur, itu menuju Xinjiang, provinsi yang terletak di bagian barat Cina. Lewat "titik nol" atau Xinjiang- lah Agustinus kemudian menjejak Tibet, dan membawa kita menjalani napak tilas peperangan Genghis Khan.

Dari Tibet, Agustinus lalu melangkahkan kaki ke Nepal, India, Pakistan, Kashmir,hingga ke Afganistan. Meski perjalanan yang ditempuh teramat jauh, Agustinus sungguh tidak membuat pembaca kelelahan mengikuti langkahnya. Kesialan demi kesialan yang ditangguk Agustinus selama perjalanan pun ia ceritakan dengan riang, bahkan kadang memantik tawa.

Ya, berbeda dengan penulis perjalanan lainnya, Agustinus tidak mengobral hal-hal indah dan menyenangkan dari negeri seberang. Ia tak sungkan menertawai kekonyolan dan kesedihan yang dialaminya dalam perjalanan. Seperti pada bab pertama, saat kita digandeng untuk ikut dalam perjalanannya dengan kereta dari Beijing ke Xinjiang.

Dengan kocak, Agustinus bercerita soal perkenalannya dengan sekelompok penumpang Uyghur, yang dalam kondisi berjejalan di gerbong kereta sekalipun sempat-sempatnya bermain "tabok pan¬tat". Agustinus, yang semula tak punya selera menghadapi kehebohan tersebut, akhirnya justru dilibatkan dalam permainan, dan berkenalan dengan seluruh penumpang.

Namun Agustinus tak melulu membuat kita tersenyum dan deg-degan menapaki Cina hingga Afganistan. Sebab, selain menjadi sebuah kitab perjalanan yang asyik, buku ini merupakan catatan personal Agustinus bersama keluarganya, terutama sang ibu, Widyawati, yang meninggal tak lama setelah kepulangannya ke Tanah Air.

Saking kentalnya unsur keluarga dalam Titik Nol, Agustinus bahkan mengawali isi bukunya di sebuah rumah sakit di Surabaya. Di sanalah, setelah sepuluh tahun lamanya tak bertatap mata, Agustinus bertemu dengan bunda¬nya, yang sudah terbaring lemah digerogoti kanker. Mukadimah yang tak biasa dalam sebuah buku perjalanan.

Pada bagian awal pula Agustinus berkontemplasi dan sempat merasa semua yang dijalaninya tidak berarti. Kemampuannya menaklukkan jalanan negeri-negeri, gunung-gunung Atap Dunia, gurun pasir gersang, dan kota-kota kuno mendadak ia rasa tak berguna ketika dihadapkan pada kondisi sang ibu yang tengah menjelang maut.

Namun, setelah mengikutinya hingga ke Afganistan, kita akan tahu perjalanan tersebut bukan sia-sia. Perjalanan adalah cara menemukan diri dan menjadi diri. Seperti dikatakan Agustinus dalam halaman 159 bukunya: bukankah para pejalan sejatinya adalah pengungsi? Kaum yang mengungsi dari kehidupan rutinitas dan keseharian, mengungsi dari keterkungkungan ego dan keterikatan, menghilangkan diri dari semua kebanggaan? Di sini kita dipersatukan hanya oleh identitas sederhana yang sama: musafir.

Titik Nol disajikan secara interwoven, berkelindan antara perjalanan darat sang penulis di kawasan Asia Timur hingga Selatan dan perkembangan hubungan Agustinus dalam keluarganya. Cara bertutur seperti itu tak menghilangkan keasyikan kita menyesapi pengembaraan Agustinus, malah justru membuat kita merefleksikan ulang apa yang disebut perjalanan. Sia-siakah bersusah-payah dan berjuang hidup di negeri seberang jika orang terdekat kita sesungguhnya memerlukan pertolongan?

Kekhasan Agustinus sebagai seorang backpacker adalah kebiasaannya untuk tinggal cukup lama di daerah yang ia kunjungi. Gaya perjalanan tersebut tak cuma berguna untuk memperkaya cerita, namun sekaligus membuat kita seolah dekat dengan sosok atau masyarakat yang tengah dituturkan.

Satu waktu, Agustinus bisa menghadirkan sejuknya Himalaya dan alam Tibet yang menawan seolah ada persis di hadapan kita. Berikutnya, dengan bahasa yang luwes, lulusan Universitas Tsinghua itu membuat kita berdebar berhadapan dengan aparat Tibet, berkenalan dengan perempuan petualang asal Malaysia, Lam Li, dan ikut geli menghadapi ruwetnya kehidupan masyarakat India.

Yang ' menarik, dalam buku ini Agustinus juga menyertakan hasil jepretannya selama ber¬tualang. Kemolekan Himalaya, dinginnya Gunung Suci Kailash, salju di puncak Thorung La dipamerkan pria 31 tahun itu dalam Titik Nol, berdampingan dengan foto sejumlah wajah penduduk dan potret budaya daerah yang ia kunjungi.

Buku ini tidak hanya cocok buat mereka yang punya hobi jalan-jalan, tapi juga menarik dibaca oleh mereka yang butuh tambahan bekal menjalani hidup. Titik Nol membuat kita sadar, perjalanan bukanlah tentang memuaskan ego, melainkan tentang melihat ke dalam diri.

• ISMA SAVITRI
copy from my email...gd job..
riana67

No comments: