Saturday, 29 June 2013

Melawan Budaya Casting

 COPY FROM EMAIL
 

From: habe arifin <habearifin@yahoo.com>
Date: 2013/6/26
Subject: [jurnalisme] Jika Aku Menjadi-Tuai Kritik Guru
To: "jurnalisme@yahoogroups.com" <jurnalisme@yahoogroups.com>, "mediacare@yahoogroups.com" <mediacare@yahoogroups.com>


 Melawan Budaya Casting
 
Oleh J. Sumardianta
guru SMA Kolese De Britto Jogjakarta
 
Jawa Pos, 10 Maret 2013
 
Abu, setiap pagi, masuk ke kelas dengan muka lebam. Guru bertanya mengapa pelupuk mata Abu bengkak kehitaman? Rumah Abu rupanya sempit. Abu, ayah, dan ibunya, tidur di kamar yang sama. Tiap malam ayah selalu bertanya apakah Abu sudah tidur. Abu selalu bilang belum. Ayah pasti menampar Abu. Bu guru memberi saran, ’’Mulai nanti malam, kalau ayahmu bertanya lagi, kamu diam, tidak usah menjawab!’’ 
Keesokan harinya Abu masuk sekolah dengan mata normal. Bu guru lega. Beberapa hari berikutnya, wajah Abu tambah parah. ’’Ya ampun, Abu. Mengapa matamu runyam begini?’’ 
’’Semalam ayah dan ibu bertanya bersamaan, Abu kamu sudah tidur? Abu diam pura-pura tidur. Ayah dan ibu mulai bergerak. Ayah mendengus dengan semangat kerbau jantan. Napas ibu tidak teratur, teriakannya tertahan, kakinya menendang-nendang, dan memekik mirip serigala.
 
Tiba-tiba ibu bertanya kepada ayah, ’Sudah mau keluar.’ Ayah bilang, ’Ya.’ Ayah dan ibu, kalau bepergian keluar, ke mana pun selalu mengajak saya. Mendengar larut malam mereka mau keluar rumah, saya berteriak, ’Tunggu! Abu ikut.’ Teriakan saya membuat ayah dan ibu murka. Mereka bergantian menggampar saya.’’ 
Lelucon orang tua berperilaku kasar terhadap anak tunggalnya itu dilontarkan para guru pendamping saat mengunjungi pelbagai lokasi yang dipakai sebagai tempat 267 siswa menjalani program imersi (
immersion program) di seantero Jakarta. Para siswa kelas sebelas sebuah SMA Jogjakarta, semuanya lelaki itu, menjalani program imersi pada 27 Januari hingga 1 Februari lalu.
 
Mereka berangkat ke Jakarta dan balik ke Jogja menumpang bus non-AC. Perjalanan menyiksa lahir batin bagi para siswa yang dalam keseharian hidup serba berkecukupan. Mereka berstatus sosial kelas menengah ke atas. Terbiasa bepergian ke luar kota dengan mobil berpendingin ruangan, kereta api eksekutif, pesawat terbang, atau bus VIP.
 
Mereka hanya boleh membawa satu kantong kresek besar berisi: 2 celana panjang, 2 celana pendek, 4 celana dalam, sepasang sandal, topi, peralatan mandi, obat-obatan pribadi, 1 botol air kemasan, dan 2 bungkus roti sobek. Dompet, HP, peranti pemutar musik tidak boleh dibawa. Mereka, sebelum berangkat, menjalani proses penggeledahan ketat di sekolah. Program imersi memang melatih peserta belajar bermati raga –
askese. Segala peranti hedonis tidak boleh dibawa.
 
Sampai di Jakarta seluruh peserta transit di tiga titik: Sanggar Ciliwung, Kampung Melayu; Fakta (Forum Warga Kota Jakarta), Jatinegara; dan Atmabrata, Cilincing. Dari tempat transit peserta dijemput calon induk semang mereka masing-masing. Mereka disebar di beberapa lokasi seperti Bukit Duri, Kampung Pulo, Muara Angke, Tanjung Priok, Tangerang, Bantar Gebang, Kebon Nanas, Sepatan, Cakung, Teluk Gong, Marunda, dan Cilincing. Di lokasi-lokasi itulah peserta hidup bersama induk semang yang seluruhnya warga miskin perkotaan –bahkan kaum gelandangan yang bermukim di kolong jalan tol Pluit, kolong jembatan Kampung Melayu, dan kuburan Kebon Nanas. Kawasan kumuh yang rombeng, jorok, dan dekil.
 
Program imersi merupakan kegiatan untuk mendengar, melihat, merasakan, dan mengalami langsung kehidupan riil
the poorest of the poor (orang termiskin di antara kaum miskin perkotaan). Orang miskin di Jakarta sungguh kecingkrangan. Rumah, tanah, penghasilan tetap, dan jaminan sosial tidak punya. Berbeda dengan orang miskin di desa yang masih punya rumah dan tanah. Para peserta bekerja sebagai pemulung, penyortir sampah, pengamen, kuli pelabuhan, pedagang sayuran, nelayan, pengupas kerang, pengolah limbah ikan, dan tukang gali kubur.
 
Eksperensia merupakan inti program imersi. Peserta diberi dua pengalaman berbentuk probasi (cobaan) dan eksperimen (latihan). Eksperensia mendorong peserta sampai pada tapal batas mereka: perasaan tersiksa dan galau berada di zona tidak nyaman. Program ini mengaktifkan
muscle memory. Memori otot dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berbeda dengan kegiatan persekolahan umumnya yang hanya berfokus pada
braind memory. Aktivitas menghafal yang membuat murid hanya pintar 5 cm di sekitar kepala mereka.
 
Peserta yang tinggal di kolong jembatan Kampung Melayu tidur dikerubuti kucing liar, tikus, dan kecoa. Perasaan waspada membuat mereka tidur tidak nyaman karena banjir Sungai Ciliwung seminggu sebelumnya merendam kawasan ini.
 
Apa makna yang diperoleh? Pemulung itu bukan sampah masyarakat, melainkan pembersih sampah yang dihasilkan masyarakat. Koruptor itulah sampah masyarakat karena merugikan negara dan menyengsarakan rakyat. Pemulung itu pekerja keras, ulet, dan tekun. Mereka
mayeng-mayeng dari Jakarta Timur sampai Jakarta Barat. Kerja berat dijalani dengan asyik dan
happy. Salah besar pandangan yang menganggap orang miskin itu malas. Mereka miskin karena korban ketidakadilan struktural.
 
Ada peserta yang mendapat induk semang suami-istri di kompleks pemakaman Kebon Nanas. Kuburan tempat mengungsi para korban gusuran proyek Kanal Banjir Timur. Si suami bekerja merawat kuburan dan menggali kubur. Sedangkan sang istri bekerja sebagai tukang cuci pakaian. Kuburan muslim dan China berada dalam satu kompleks. Kebon Nanas contoh nyata multikulturalisme Jakarta.
 
Induk semang dibantu peserta menggali liang lahad malam hari. Jasad dikuburkan siang esok harinya. Siswa yang kebetulan keturunan Tionghoa itu, saat menguruk liang lahad menjadi tontonan menarik para pelayat karena wajahnya mirip personel
boy band Korea.
 
Tidak semua kisah program imersi berasa manis. Ada pula yang pahit dan getir. Rombongan peserta yang lagi bergerak ke arah Marunda tiba-tiba dicegat gerombolan anak jalanan berpenampilan punk. Tas kresek mereka digeledah. Tahu isinya cuma gombal dan
survival kit, punk tidak jadi memalak.
 
Peserta lain merasakan pengalaman buruk nyaris menjadi korban aksi cemburu buta. Peserta itu diancam akan dipecah kepalanya oleh preman kampung karena dianggap sebagai biang keonaran keluarga ibu induk semang. Si preman menganggap kedatangan peserta membuat pacarnya (kakak kandung induk semang) akan pindah ke Kebon Kopi. Si preman mengamuk dan membawa massa. Untung pendampingnya sigap. Peserta dievakuasi ke tempat aman.
 
Lain lagi rombongan yang sedang menuju Sepatan-Malaka. Mereka malah dibantu preman. Rombongan yang kesulitan mencari angkutan umum itu dicegatkan bus. Penumpang bus disuruh turun. Bocah-bocah yang lagi magang menjadi orang susah itu dinaikkan ke bus. Si preman meminta sopir mengantar mereka sampai tujuan.
 
Peserta program imersi merupakan remaja yang mengalami defisit afeksi di tengah keluarga mereka. Orang tua mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Anak-anak terabaikan. Saat di lokasi mereka sangat tersentuh mendapati kenyataan keluarga induk semang walau serba berkekurangan, surplus perhatian, akrab, dan hangat satu dengan yang lain –sesuatu yang kurang mereka rasakan di rumah.
 
Kehadiran peserta menjadi teladan bagi dua remaja putri anak induk semang. Kedua remaja putri itu jadi bangga memiliki ayah kuli pelabuhan. Dua peserta yang menumpang di rumah mereka tidak canggung menangani pekerjaan kasar, memindahkan semen dari truk trailer ke atas kapal di Tanjung Priok.
 
Mereka dipaksa belajar bukan pada guru dan orang pintar, melainkan belajar dari orang miskin yang dianggap bodoh dan tidak berpendidikan, agar mereka tergerak membantu kaum hina-dina-papa-sudra. Kaum yang jika hendak ’’tersenyum’’ saja, sebagaimana dikisahkan di bagian awal tulisan ini, harus menganiaya anaknya. Semua itu karena saking sempit (baca: strategis)-nya rumah mereka: ruang tamu, kamar, tidur, dan tempat masak menyatu.
 
Program imersi berbeda dengan program ’’
Seandainya Aku Menjadi’’ yang ditayangkan salah satu stasiun TV. Program TV yang penuh iba dan berurai air mata itu identik budaya
casting menjurus pemegahan diri. Program imersi melatih generasi muda bermental
driver. Berani mengambil risiko, waspada, dan mencari terobosan baru. Bukan generasi bermental
passanger: tukang komplain, penakut, tidak disiplin, rumit, dan mudah tersinggung. (*)
 

Revolusi Putih: Mengganyang Kebodohan, Mencerdaskan Bangsa!!

------------------------------------
 

riana67

No comments: